Jumat, 05 November 2010

hipotesa ilmiah dan non ilmiah

A.    Hipotesa Ilmiah dan Non Ilmiah
‘Hipotesa’ adalah sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah. Akan tetapi kegiatan ilmiah itu tidak lain daripada kegiatan yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, bedanya hanya bahwa kegiatan ilmiah itu dikaukan secara sadar, teliti, dan terarah. Naka kalau dalam kegiatan ilmiah orang membuat hipotesa, dalam berfikir sehari-hari pun orang juga membuat hipotesa, hanya biasanya tidak disebut hipotesa, akan tetapi: anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya.
Dalam The Method of Science, karangan Thomas Hery Huxley, pembentukan hipotesa dijelaskandengan menggunakan kejadian sehari-hari, bukan suatu peristiwa ilmiah.
“Saya ambil saja, salah seorang dari kami ini, pada waktu pagi-pagi turun dari ruang atas ke ruang keluarga, melihat bahwa poci the dan beberapa sendok yang pada malam sebelumnya ditinggalkan disitu telah hilang. Jendela terbuka dan kami melihat bekas telapak tangan kotor di bingkai jendela dan barang kali ditambah lagi: di kerikilan di luar ada bekas sepatu yang solnya diberi paku. Semua itu seketika menarik perhatian kami dan tidak sampai dua detik, kami berkata: ‘Ah, ada orang mencungkil jendela, masuk kamar dan pergi dengan membawa sendok dan the poci’. Kata-kata itu keluar dari mulut seketika. Dan barangkali kami akan menambahkan: ‘Memang ada orang masuk, saya yakin sekali mesti begitu!’ “
Dalam contoh kejadian di atas si pemilik rumah mengemukakan bahwa hilangnya poci the dan sendok itu karena dicuri orang. Meskipun ia merasa tahu dan yakin betul-betul bahwa telah terjadi pencurian, akan tetapi sebenarnya tidak dapat dipastikan apakah pencurian itu benar-benar telah terjadi. Mengapa poci dan sendok itu mesti diambil orang? Mengapa tidak diambil hewan atau hilang sendirinya?  Kalau dikatakan bahwa itu dihubungkan kepada orang yang masuk kamar, maka harus dipertanyakan lagi, mengapa jendela yang terbuka itu mesti dibuka oleh orang, mengapa bekas tangn itu mesti berarti, bahwa ada orang yang telah memegang bingkai jendela.
Itu semua adalah kemungkinan-kemungkinan yang tidak dapat diketahui kepastiannya. Dan masih banyak kemungkinan lain yang dapat dicari. Oleh karena itu, meskipun si pemilik rumah merasa tahu dan yakin akan kebenarannya, akan tetapi apa yang dikemukakannya itu bukan sesuatu yang benar-benar pasti. Itu adalah sesuatu yang kurang dari kepastian, sesuatu di bawah kepastian: itu adalah suatu hipotesa (Yunani: hypo =  dibawah; thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian). Jadi  si pemilik rumah telah membuat hipotesa.
Proses pembentukan hipotesa di atas adalah proses penalaran, yang sebenarnya melalui tahapan-tahapan. Proses penalaran dan tahap-tahap yang sama juga terjadi dalam pembuatan hipotesa ilmiah, tetapi semua dengan sadar, teliti, dan terarah. Tahap-tahap dalam pembentukan dan penggunaan hipotesa secara garis besar adalah sebagi berikut:
1.    Penentuan masalah.
2.    Hipotesa pendahuluan atau hipotesa preliminer (premilinary hypothesis).
3.    Pengumpulan fakta.
4.    Formulasi hipotesa.
5.    Pengujian hipotesa.
6.    Aplikasi/penerapan.
Hipotesa itu tidak hanya sekedar merupakan konklusi penalaran, akan tetapi juga menerangkan masalah yang menyebabkan hipotesa disusun. Hipotesa pencurian menerangkan mengapa sendok dan poci teh tidak di tempatnya lagi. Dengan hipotesa itu kita mengetahui atau mendapat pengetahuan mengapa sendok dan poci itu hilang. Pendapat itu dapat diterangkan, artinya: atas dasar anggapan bahwa hipotesa itu benar dapat didakan ramalan, dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta.

B.     Hipotesa sebagai konklusi
Hipotesa disusun berdasarkan atas atau disimpulkan dari sejumlah fakta. Hipotesa itu konklusi dari sebuah penalaran. Penalaran yang menghasilkan hipotesa itu sangat kompleks, melibatkan deduksi dan induksi, dan bahkan ada unsur intuisi dan ilham. Kalau penalaran yang menghasilkan hipotesa pencurian itu dijabarkan, didalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
Cacatan: *  = generalisasi induktif
** = proposisi mutlak/jelas dengan sendirinya (self evident).
#  = observasi baru.
(1) * Dimana ada bekas sepatu, disitu (pernah) ada sepatu.
     # Di depan jendela ada bekas sepatu.
    \Di depan jendela (pernah) ada sepatu

(2)       * Sepatu di depan jendela itu sepatu yang tidak di tempat penyimpanannya.
* Sepatu yang tidak di tempat penyimpanannya adalah sepatu yang dipakai orang
\ Sepatu di depan jendela adalah sepatu yang dipakai orang.

(3) * Tempat dimana terdapat bekas telapak tangan adalah tempat yang pernah dipegang tangan orang.
# Di bingkai jendela ada bekas telapak tangan.
\Bingkai jendela itu pernah dipegang orang

(4)      * Jendela kamar yang tertutup dan kemudian terbuka, tentu dibuka orang.
# Jendela kamar itu tadinya tertutup, kemudian terbuka.
\ Jendela kamar itu tentu dibuka orang.
Dari tiga konklusi yang terakhir di atas, yaitu bahwa:
·         Ada orang bersepatu di depan jendela;
·         Bingkai jendela itu pernah dipegang tangan orang; dan
·         Jendela kamar itu tentu dibuka orang,
Disimpulkan kejadian berikut: ada orang bersepatu berdiri di depan jendela, memegang bingkai, dan kemudian membukanya.
Kesimpulan ini bukan kesimpulan penalaran. Logika tidak dapat memastikan bahwa orang bersepatu di depan jendela itu tentu sama dengan orang yang memegang bingkai jendela, dan juga tidak dapat memastikan bahwa orang itu pulalah yang membuka jendela. Diantara ketiga peristiwa itu tidak ada implikasi logis. Kesimpulan itu hasil intuisi.
(5)      * Barang yang tidak di tempatnya lagi tentu diambil orang.
# Poci teh dan sendok itu tidak ditempatnya lagi.
\Poci teh dan sendok itu tentu diambil orang.

(6)      ** Semua perbuatan tentu mempunyai maksud.
Ada orang membuka jendela. (kesimpulan dari konklusi (2), (3), dan (4) di atas)
\ Orang yang membuka jendela itu mempunyai maksud tertentu.
Konklusi terakhir dihubungkan dengan konklusi (5) bahwa poci dan sendok itu diambil orang, melahirkan kesimpulan bahwa poci dan sendok itu diambil oleh orang yang membuka jendela itu.
Kesimpulan inilah yang disebut oleh si pemilik rumah dikemukakan sebagai hipotesa. Kesimpulan itu adalah hasil intuisi atau ilham. Dilihat dari sudut logika, antara hilangnya poci serta sendok dan orang yang membuka jendela tidak ada implikasi logis. Pikiran tidak dapat memastikan adanya hubungan tertentu antara orang membuka jendela dengan barang hilang
Hipotesa adalah suatu konklusi yang memiliki nilai probabilitas. Dalam hal ini hipotesa sama dengan konklusi penalaran induktif biasa. Bahkan persamaannya lebih dari itu. Kedua-duanya didasarkan atas pengumpulan fakta, nilai probabilitasnya dapat ditingkatkan denga mengujinya, yaitu dengan mencocokkannya dengan fakta. Dengan menerapkan hipotesa maupun konklusi induktif arang dapat mengadakan prediksi. Karena persamaan-persamaan itu maka konklusi induktif pun dapat dipandang dan diperlakukan sebagai hipotesa.



C.    Hipotesa sebagai eksplanasi
Dengan diakuinya bahwa konklusi penalaran ilmiah itu suatu propabilitas, istilah vera causa sekarang telah berganti menjadi eksplanasi atau keterangan, penjelasan.
Mengenai keterangan atau penjelas itu harus diingat bahwa sebuah fakta tidak hanya dapat diterangkan dengan satu cara saja. Setiap keterangan sebenarnya hanya salah satu keterangan yang dapat diberikan. Hipotesa-hipotesa lain sudah tentu dapat disusun. Hal itu tergantung kepada imajinasi orang yang menciptakannya.
Apa kriterianya untuk mengatakan bahwa suatu hipotesa itu baik atau tidak baik? Di bawah ini tercantum kriteria yang dapat digunakan untuk keperluan itu:
1.    Sebuah hipotesa harus sekomprehensif mungkin, artinya: semua fakta yang berhubungan dengan masalahnya dan semua aplikasi/penerapan dari hipotesa itu harus dapat diterangkan oleh hipotesa yang bersangkutan.
2.    Sebuah hipotesa harus memiliki nilai prediktif (predictive power), hipotesa harus dapat digunakan untuk meramalkan apa yang akan terjadi.
3.    Sebuah hipotesa harus dapat diuji (testability), yaitu dicocokkan dengan observasi empirik.
4.    Simplisitas atau kesederhanaan.
5.    Hipotesa tidak boleh mengandung inkonsistensi.
Kalau kita perhatikan keriteria di atas, terbukti ada yang mutlak ada yang tidak. Yang mutlak ialah:
·      Harus memiliki nilai prediktif.
·      Harus dapat diuji atas dasar observasi empirik.
·      Harus konsisten.
Sebaliknya keriteria komprehensivitas dan kesederhanaan bukan keriteria yang mutlak, artinya: meskipun kurang komprehensif atau kurang sederhana, hipotesa masih dapat diterima oleh pikiran, asal tidak melanggar criteria yang mutlak.


BAB II
KESIMPULAN

‘Hipotesa’ adalah sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah. Akan tetapi kegiatan ilmiah itu tidak lain daripada kegiatan yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, bedanya hanya bahwa kegiatan ilmiah itu dikaukan secara sadar, teliti, dan terarah. Naka kalau dalam kegiatan ilmiah orang membuat hipotesa, dalam berfikir sehari-hari pun orang juga membuat hipotesa, hanya biasanya tidak disebut hipotesa, akan tetapi: anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya.
Tahap-tahap dalam pembentukan dan penggunaan hipotesa secara garis besar adalah sebagi berikut:
1.      Penentuan masalah.
2.      Hipotesa pendahuluan atau hipotesa preliminer (premilinary hypothesis).
3.      Pengumpulan fakta.
4.      Formulasi hipotesa.
5.      Pengujian hipotesa.
6.      Aplikasi/penerapan.
Hipotesa disusun berdasarkan atas atau disimpulkan dari sejumlah fakta. Hipotesa itu konklusi dari sebuah penalaran. Penalaran yang menghasilkan hipotesa itu sangat kompleks, melibatkan deduksi dan induksi, dan bahkan ada unsur intuisi dan ilham.
Kriterianya untuk mengatakan bahwa suatu hipotesa itu baik atau tidak baik adalah:
1.    Sebuah hipotesa harus sekomprehensif mungkin.
2.    Sebuah hipotesa harus memiliki nilai prediktif (predictive power).
3.    Sebuah hipotesa harus dapat diuji (testability).
4.    Simplisitas atau kesederhanaan.
5.    Hipotesa tidak boleh mengandung inkonsistensi.

DAFTAR PUSTAKA

Soekardijo, R.G. LOGIKA DASAR (tradisional, simbolik, dan induktif), Jakarta: Gramedia, 1985

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar